Diskusi Bersama Menristekdikti Prof. Mohamad Nasir

Pada suatu siang yang sejuk di musim semi, bertanggal 26 April 2015 dan bertempat di Wisma Duta Indonesia di Helsinki, PPI Finlandia memenuhi undangan dari Bpk. Elias Ginting selaku Duta Besar Indonesia di Finlandia, dan KBRI Helsinki, untuk menghadiri makan siang, ramah tamah dan diskusi hangat bersama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir beserta rombongan dalam kunjungannya ke Helsinki selama akhir pekan tersebut.


Kunjungan Bpk. Mohamad Nasir ke Finlandia kali ini adalah dalam rangka penandatanganan MoU dengan Menteri Pendidikan dan Komunikasi Finlandia, Krista Kiuru, untuk mempromosikan dan mendorong kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan pendidikan tinggi. Berita selengkapnya: Tautan KBRI Helsinki, Twitter Bpk. Moh Nasir, dan Media Indonesia.



Diskusi PPI Finlandia bersama Menristekdikti. Dari kiri - kanan: Bimo Murti, Keni Vidilaseris, Imam Santoso, Agus Pramono, Menristekdikti Prof. Moh Nasir, Mukrimin Muke, Windi Muziasari, Zenith Purisha

Makan siang dan diskusi kali ini dihadiri oleh 6 perwakilan dari PPI Finlandia, yaitu Bimo Murti, Windi Muziasari, Zenith Purisha, Keni Vidilaseris, Imam Santoso dan Mukrimin Muke. Disamping itu juga hadir Rio Wibowo sebagai perwakilan dari masyarakat Indonesia, dan Agus Pramono selaku perwakilan dari PPI Estonia.

Bimo Murti, Windi Muziasari dan Zenith Purisha merupakan perwakilan dari Kepengurusan PPI Finlandia 2013 - 15, Keni Vidilaseris merupakan mahasiswa postdoktoral Indonesia yang pertama di Finlandia, Mukrimin Muke merupakan penerima beasiswa DIKTI, dan Imam Santoso merupakan perwakilan dari Kepengurusan PPI Finlandia 2015 - 17, yang juga penerima beasiswa LPDP.

Seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya, PPI Finlandia selalu membuka forum pertanyaan kepada seluruh member organisasi untuk bisa menitipkan pertanyaannya untuk dapat dijadikan bahan kajian dan diskusi dalam acara tersebut. Dalam kesempatan kali ini, berbagai pertanyaan yang masuk telah berhasil diformulasikan oleh tim perwakilan dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu pertanyaan/diskusi seputar permasalahan dalam negeri dan follow-up terkait kerjasama Indonesia dengan Finlandia.

Bpk. Moh Nasir membuka pembicaraan dengan melontarkan wacana dan visi dari kementriannya untuk mengembangkan Science Techno Park sebagai pusat hubungan antara dunia riset dan industri, dimana para inventor yang berhasil menghasilkan inovasi bisa mendapatkan royalti/hak cipta sebesar 40% dan pemerintah sebesar 60%.

Pembicaraan dilanjutkan terkait berbagai area yang dianggap sebagai fokus dari Kemenristekdikti yang akan dikembangkan hingga 2025, yaitu:

  1. Health and medicine

  2. Food and agriculture

  3. Information, communication and technology (ICT)

  4. Transportation

  5. Renewable energy

  6. Defense technology

  7. Advance material

Ketujuh bidang diatas akan difokuskan, dikembangkan dan dikolaborasikan dengan Dewan Riset Nasional (DRN) dibawah berbagai Direktorat Jenderal Kemenristek 2015, sebagai berikut:

  • Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan

  • Ditjen Kelembagaan IPTEK dan DIKTI

  • Ditjen Sumber Daya IPTEK dan DIKTI

  • Ditjen Penguatanan Riset dan Pengembangan

  • Ditjen Penguatan Inovasi


Bpk. Moh Nasir juga mengingatkan pentingnya kerjasama dari dengan berbagai bidang riset lainnya, termasuk riset dasar, yang diharap bisa membantu ketujuh bidang diatas dalam menghasilkan inovasi dan produk yang bisa memperbaiki dan memajukan keadaan masyarakat di Indonesia.


Suasana diskusi ringan sebelum makan siang. Kiri-kanan: Menristekdikti Prof. Moh Nasir, Mukrimin Muke, Windi Muziasari, Zenith Purisha

Isu lainnya yang hangat dibincangkan saat acara berlangsung adalah seputar beasiswa (LPDP dan DIKTI) serta beberapa perbedaan yang dirasakan terjadi antara peneliti dan dosen. Menristekdikti menegaskan terkait berbagai tunjangan fungsional yang sudah sesuai dengan beban kerjanya untuk peneliti karena setiap tahunnya harus diwajibkan publikasi hasil penelitian, bahkan hingga prototype dan hak cipta. Begitupun dengan dosen PNS yang sudah menjalankan Tridharma yang juga bisa mendapat akreditasi.


Terkait isu renumerasi PNS dosen yang berbeda di setiap perguruan tinggi (PT), beliau menjelaskan tentang keterkaitannya dengan perbedaan dana yang diberikan ke setiap PT di Indonesia. Sejauh ini terdapat 6 PT yang berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) yang sudah mandiri dalam hal pengelolaan dana, dimana renumerasi menjadi salah satu isu internal yang merupakan kewenangan PT tersebut. Begitupun dengan pengadaan barang (e.g. alat laboratorium, fasilitas komputer, dsb) yang tidak memerlukan sistem lelang lagi, melainkan menjadi pembelian langsung.


Kendala lainnya, menurut beliau, berasal dari alokasi dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar 20% di bidang pendidikan, yang ternyata dialokasikan tidak hanya ke satu kementrian, melainkan ke seluruh kementrian yang mempunyai lembaga/program pendidikan (e.g. STAN dari Kemenkeu). Hal tersebut juga yang akhirnya membuat dana yang diterima oleh Kemenristekdikti dirasa belum optimal (sekitar Rp50 triliun).



Suasana diskusi saat makan siang. Kiri-kanan: Menristekdikti Moh. Nasir, Ibu Agnes Ginting, Mukrimin Muke, Imam Santoso, Ibu Nelvi Syah (KBRI Helsinki)

PPI Finlandia juga menaikkan beberapa isu terkait pentingnya mengelompokkan universitas di Finlandia ke dalam kategori 1 di beasiswa DIKTI karena kualitas pendidikannya yang juga sudah diakui di mata dunia internasional, serta menaikkan nominal beasiswa untuk para penerimanya dikarenakan standar biaya hidup di Finlandia yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara Eropa lainnya.


Topik diskusi dalam acara pun beralih kepada kerjasama antara Indonesia dan Finlandia. Terkait MoU yang akan ditandatangani Menristekdikti setelah acara makan siang kali ini, beliau mengatakan harapannya untuk Mou ini bisa mempermudah kerjasama riset antara Indonesia dan Finlandia dengan terciptanya sebuah tim/badan penghubung di bidang riset dan inovasi. MoU ini juga diharapkan akan mempermudah antar perguruan tinggi untuk bisa menjajaki kerjasama dalam berbagai hal, antara lain penilaian kurikulum dan kualifikasi, pertukaran pelajar/staf pengajar, serta sharing best practices dalam proyek ilmu pengetahuan dan inovasi.


Salah satu bentuk kerjasama menurut Bpk. Moh. Nasir yang mempunyai keterkaitan dengan Finlandia dan riset dasar adalah teknologi pengisian tenaga bus listrik di Finlandia. Beliau mengatakan waktu yang dibutuhkan untuk pengisian tenaga bus listrik di Finlandia adalah 3 menit, dimana pada umumnya adalah 6 jam. Beliau lebih lanjut mengatakan kemungkinan Indonesia untuk menjajaki kerjasama di bidang tersebut dimana Indonesia bisa berperan dalam pembuatan rangka dan Finlandia dalam penyediaan mesinnya.


Menurut Sdr. Agus Pramono dalam laporannya di grup beasiswa DIKTI, Kemenristekdikti kini juga sedang menjajaki kemungkinan bekerjasama dengan pemerintah Latvia untuk memperkuat "bargaining position" di negara kawasan Nordic-Baltic. Menurut beliau, kekuatan Russia salah satunya terletak pada para teknokrat yang berlokasi di Belarus, dan Indonesia saat ini sudah membangun kerjasama dengan negara yang banyak menghasilkan ilmuwan di bidang manufaktur. Beliau lebih lanjut menyebutkan bahwa dalam waktu yang tidak lama, Indonesia akan segera mewujudkan sistem kemajuan infrastruktur pendidikan dan teknologi.


Terkait isu energi, Bpk. Moh Nasir menyampaikan ketertarikannya untuk mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam memenuhi kebutuhkan listrik di Indonesia terkait dengan efisiensi yang bisa didapatkan dalam hal biaya dan finansial. Beliau juga menyayangkan akan masih adanya beberapa PT di Indonesia yang tidak setuju dengan visi tersebut, sedangkan kajian tentang pengaruhnya di bidang lingkungan menurut beliau akan lebih diperhatikan.


Sesi foto bersama PPI Finlandia dengan Menristekdikti, Prof. Moh. Nasir

Acara yang singkat ini ditutup oleh keterbatasan waktu, dimana Bpk. Moh Nasir dan rombongan harus melanjutkan ke acara berikutnya yaitu penandatanganan dari MoU kerjasama kali ini. Sesi foto bersama dan pertukaran cinderamata antara Menristekdikti dan Bpk. Duta Besar Elias Ginting pun berlangsung sebelum kepergian beliau.


Dalam kesempatan kali ini, PPI Finlandia ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak KBRI, terutama Bpk. Duta Besar Elias Ginting dan Bpk. Made Sentanajaya, atas kesempatan yang sudah diberikan untuk menghadiri acara kali ini. Semoga diskusi singkat kali ini bisa memperluas informasi terkait hasil kerja, pokok pikiran dan wacana dari Kemenristekdikti serta berbagai isu yang dihadapi oleh berbagai mahasiswa terkait riset, inovasi dan pendidikan di Indonesia dan juga Finlandia.


Demi Indonesia yang lebih baik.

Penulis: Bimo Murti Per tanggal: 10 May 2015 Foto: Mukrimin Muke, Riva Sandhiajaya (KBRI Helsinki)


5 views

PPI Finlandia di Instagram

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2019 - PPI Finlandia

  • Black Instagram Icon
  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon