Buku tentang kesepian walau tidak sendiri

HARI BUKU NASIONAL Indonesia 2020

Kolaborasi Diaspora Indonesia Finland-Estonia (DIFE) dan Perkumpulan Pelajar Indonesia Finlandia (PPIF)


Ulasan Buku #5 oleh Dini Rätsepso


Ulasan buku selanjutnya adalah dari seorang guru TK di Tallinn, ibukota Estonia, bernama Dini Rätsepso. Menjalani kehidupan di Tallinn selama 11 tahun dan memiliki 2 (dua) anak mendukung minatnya mendalami dunia anak dan remaja. Dia ingin berbagi cerita mengenai salah satu buku favoritnya berjudul “Hidup tanpa teman: Kesendirian anak-anak dan remaja", karya Niina Junttila (dalam bahasa Estonia).


Buku ini bercerita tentang kesepian - dibuat berdasarkan penelitian terhadap perilaku anak-anak - suatu fenomena dimana seseorang merasa terpisah dari lingkungannya dan menjadi tertutup karena merasa tak memiliki kawan. Isu ini menjadi krusial di taman kanak-kanak atau sekolah sebab umumnya anak dan remaja banyak menghabiskan waktu mereka di sekolah. Dalam pandangan seorang guru, sekolah merupakan tempat yang baik untuk seorang anak belajar bersosial, berinteraksi secara horizontal. Kenyataannya, kesepian tak jarang ditemui di lingkungan sekolah. Padahal, kemampuan bersosial merupakan nilai yang ingin ditanamkan oleh sekolah (guru) bagi anak didiknya. Nilai ini turut menjamin terbentuknya rasa percaya diri dan keberanian - sifat penting agar seseorang dapat "sejahtera secara sosial".


"Kesepian itu seperti gunting dalam kehidupan sosial kita", Dini menekankan. Hal yang ditakutkan adalah apabila keterasingan secara sosial ini berlanjut hingga dewasa. Berdasarkan penelitian, kesepian didefinisikan dengan cara yang berbeda pada waktu dan lingkungan yang berbeda, yakni:


  1. Perasaan kesepian disebabkan oleh rendahnya kuantitas atau kualitas seseorang dalam berhubungan sosial.

  2. Kesendirian merupakan pengalaman subjektif, artinya kesepian itu tumbuh dari dalam diri orang itu sendiri, bukan diberikan oleh orang lain, sebagai respon atas pengalamannya.

  3. Kesendirian itu relatif, terlepas dari jaringan sosial dan jarak fisik yang sebenarnya - seseorang mungkin sendirian, tetapi tidak kesepian; sebaliknya, merasa kesepian walau sedang bersama orang lain.

  4. Kesendirian akibat pengalaman tidak menyenangkan atau dilecehkan.


Ketika seorang anak "sendirian“ secara sosial, berarti dia tidak memiliki teman bermain. Dia cenderung menjadi tertutup. Dalam kasus anak-anak prasekolah, kesepian erat dengan rendahnya kepercayaan diri, rasa takut akibat pelecehan dan intimidasi serta masih banyak lagi. Nah, kita harus kembali kepada hakikat manusia sebagai makhluk sosial dimana sangat penting untuk setiap anak dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam bersosialisasi atau bekerjasama dengan orang lain. Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang harus menjadi extrovert, tetapi setiap orang baiknya memiliki interaksi sosial secara berkala.


Dari sudut pandang orang kedua atau ketiga, Dini mengingatkan, bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk bisa melihat gejala kesendirian di sekitar kita. Apa yang dapat kita lakukan untuk menyembuhkan kesepian sebagai seorang teman? rekan kerja? keluarga? Bersama, kita bisa melakukan langkah-langkah untuk mengurangi kesepian. Namun, jangan kategorikan "jomblo" sebagai kesepian, ya; itu tidak masuk pembahasan kita. "Kita semua membutuhkan keluarga, teman dan lingkungan yang sehat secara fisik dan mental", tutup Dini.


#haribukunasional #gemarmembaca #diasporaindonesiafinlandia #ppifinlandia

0 views

PPI Finlandia di Instagram

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2019 - PPI Finlandia

  • Black Instagram Icon
  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon